get app
inews
Aa Text
Read Next : Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS, Menteri Keuangan Purbaya: Tidak Ada: Reshuffle

Fantastis! Utang Luar Negeri Indonesia Sentuh Rp7.999 Triliun 

Kamis, 16 Juli 2026 | 21:09 WIB
header img
Pemerintah sudah mencatatkan utang sebesar 444,4 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026. (foto: ilustrasi/ist)

JAKARTA, iNewsBalikpapan.id - Angka utang luar negeri (ULN) Indonesia terus melonjak. Hingga kuartal pertama atau Mei 2026, pemerintah sudah mencatatkan utang sebesar 444,4 miliar dolar AS atau setara Rp7.999 triliun.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), utang luar negeri pemerintah mencatatkan kenaikan sebesar 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode bulan sebelumnya.

Kenaikan jumlah utang itu didorong peningkatan utang pemerintah dan bank sentral.

Meski nilai utang luar negeri nyaris mencapai Rp8.000 triliun, namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak khawatir. Dia mengklaim jumlah tersebut masih dalam kondisi yang aman serta terkendali.

"Kalau pakai di fiskal itu kan di bawah 60 persen, harusnya di bawah 60 persen kita masih 40 persen jadi masih jauh dari ininya. Itu ukuran dari kesinambungan utang yang memakai standar yang paling strict di dunia, Maastricht Treaty itu," ucap Purbaya di Istana Kepresidenan, Rabu (15/7/2026) malam.

Dia menegaskan, nominal ULN sama sekali tidak bisa dipakai sebagai satu-satunya tolok ukur tunggal untuk menilai tingkat keamanan fiskal Indonesia.

Menurut Purbaya, indikator kesehatan keuangan negara wajib dihitung berdasarkan perbandingan ukuran kapasitas ekonomi makro, yang salah satunya tercermin lewat rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Formulasi perhitungan rasio utang merujuk pada standar baku internasional yang tertuang dalam Maastricht Treaty. Dia berkilah, saat ini banyak negara maju di dunia yang posisinya telah melampaui ambang batas acuan tersebut.

Purbaya mencontohkan Amerika Serikat yang memiliki rasio utangmenembus angka 100 persen, Singapura sebesar 175 persen, Jepang yang menyentuh level 275 persen, serta Jerman yang berada di kisaran 60-an persen.

"Jadi kalau melihat kondisi keamanan fiskal suatu negara ya harus datang dengan acuan-acuan yang pas," ujarnya.

Kondisi ketahanan fiskal yang kuat ini dinilai terbukti secara empiris lewat keputusan lembaga pemeringkat kredit internasional, S&P, yang secara resmi mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan prospek (outlook) yang stabil.

Purbaya menilai pengakuan dari lembaga independen dunia tersebut menjadi bukti nyata bahwa sistem pengelolaan anggaran belanja negara yang dijalankan pemerintah sudah berada di jalur yang benar.

"Kalau kita dianggap tidak mampu pasti udah 'unstable' atau 'negatif' atau mungkin udah downgrade (rating-nya)," tambahnya.

Editor : Abriandi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut