Di sisi lain, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan adanya potensi berkembangnya fenomena El Nino pada paruh kedua tahun 2026. Hingga akhir Maret, kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada dalam fase netral.
Meski demikian, hasil pemodelan iklim menunjukkan kemungkinan ENSO beralih menuju fase El Nino pada semester kedua tahun ini. Ardhasena mengingatkan agar hasil prediksi tersebut disikapi secara hati-hati, mengingat adanya fenomena spring predictability barrier, yakni periode menurunnya tingkat akurasi prakiraan iklim saat memasuki musim semi di belahan bumi utara.
Ia menjelaskan, prediksi El Nino yang dibuat pada Maret hingga April umumnya hanya cukup andal untuk proyeksi tiga bulan ke depan. Kendati intensitasnya belum dapat dipastikan, BMKG memperkirakan musim kemarau tahun 2026 cenderung lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal, dipengaruhi oleh variabilitas iklim alami di Indonesia.
Editor : Abriandi
Artikel Terkait
