JAKARTA, iNewsBalikpapan.id – Menjaga kadar testosteron tidak cukup hanya dengan mengandalkan olahraga atau mengonsumsi makanan tertentu. Kebiasaan sehari-hari, mulai dari pola makan, waktu tidur, aktivitas fisik hingga cara mengelola stres, juga ikut berperan dalam menjaga kesehatan hormonal pria.
Dokter Spesialis Urologi sekaligus edukator kesehatan, dr Andika Afriansyah, mengingatkan para pria, terutama mereka yang mulai memasuki usia 30-an, agar lebih memperhatikan perubahan pada tubuh. Salah s4atu yang patut diwaspadai adalah bertambahnya lingkar perut.
Melalui video yang diunggah di akun Instagram miliknya, dr Andika menjelaskan bahwa lemak visceral yang menumpuk di sekitar perut bukan sekadar persoalan penampilan. Jaringan lemak tersebut memiliki aktivitas hormonal yang dapat memengaruhi keseimbangan testosteron dalam tubuh.
“Perut buncitmu itu lagi ngabisin hormon testosteron darahmu. Bukan ngasal, ini beneran kejadian di dalam badan kita,” ungkap dr Andika, dikutip Senin (15/8/2026).
Ia menerangkan, jaringan lemak mengandung enzim aromatase. Enzim ini berperan dalam mengubah sebagian testosteron menjadi estrogen. Karena itu, peningkatan jumlah lemak tubuh, terutama lemak di area perut, perlu menjadi perhatian.
“Fun fact-nya, lemak di perut cowok usia 30-an itu unik. Dia punya semacam pabrik yang mengubah testosteron kamu jadi hormon cewek, testosteron jadi estrogen. Jadi, makin gede perutmu, makin banyak testosteron yang keambil,” katanya.
Untuk membantu menjaga kesehatan hormonal, dr Andika menyebut ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai diperhatikan pria dalam kehidupan sehari-hari.
1. Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan dan Minuman Manis
Asupan gula yang berlebihan dapat meningkatkan jumlah kalori yang masuk ke tubuh. Apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang memadai, kelebihan energi tersebut berpotensi disimpan sebagai lemak.
Penumpukan lemak di sekitar perut pun bisa terjadi ketika pola makan tidak terkontrol.
“Yang bikin perut numpuk lemak itu bukan makan makanan tinggi lemak, tapi gula. Gula bikin badan nyimpan lemak di perut sebagai surplus kalori berlebih. Jadi, yang direm makan makanan manisnya, bukan hanya ngurangi nasi,” ujarnya.
Karena itu, mengurangi konsumsi minuman manis, makanan tinggi gula, serta mengontrol total asupan kalori menjadi bagian penting dalam menjaga komposisi tubuh.
2. Olahraga Hanya Mengandalkan Kardio
Aktivitas fisik memang menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Namun, menurut dr Andika, latihan sebaiknya tidak hanya berfokus pada kardio.
Latihan kekuatan atau resistance training dapat menjadi pilihan untuk melengkapi rutinitas olahraga. Ia menyarankan latihan dengan gerakan-gerakan yang melibatkan banyak kelompok otot sekaligus.
“Kardio doang enggak cukup. Kardio berlebihan malah bisa nurunin testosteron kita. Yang naikin justru angkat beban di gym. Gerakan-gerakan besar, compound, seperti squat, deadlift, dan lain-lain,” ucap dr Andika.
Dengan demikian, kombinasi latihan kardio dan latihan kekuatan dapat menjadi bagian dari pola olahraga yang lebih seimbang.
3. Kebiasaan Begadang
Waktu tidur juga tidak boleh disepelekan. Selain membantu proses pemulihan tubuh, tidur yang cukup dan berkualitas berkaitan dengan berbagai fungsi hormonal.
Dr Andika mengatakan produksi testosteron banyak berlangsung ketika seseorang berada dalam kondisi tidur, terutama pada fase tidur yang lebih dalam.
“Ini yang aku bilang, aku pun sering ngremehin ini. Kualitas dan durasi tidur, testosteron itu diproduksi paling banyak jam dua sampai jam empat pagi pas tidur masuk ke dalam fase deep. Begadang semalaman aja udah bisa nurunin kadarnya lumayan banyak,” jelas dr Andika.
Karena itu, kebiasaan tidur larut malam sebaiknya tidak dilakukan terus-menerus. Pria perlu menjaga durasi sekaligus kualitas tidur agar tubuh memiliki kesempatan untuk menjalankan proses pemulihan secara optimal.
4. Membiarkan Stres Terus Berlarut
Bukan hanya pola makan dan olahraga, kondisi psikologis juga perlu mendapat perhatian. Stres yang berlangsung dalam waktu lama dapat memengaruhi berbagai proses di dalam tubuh.
Saat mengalami stres, tubuh melepaskan hormon kortisol sebagai bagian dari respons terhadap tekanan. Menurut dr Andika, kondisi tersebut juga perlu dikelola agar tidak berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.
“Kamu enggak sadar lingkar perut itu bisa naik gara-gara stres. Pas stres, badan ngeluarin hormon kortisol yang ngelawan khasiat testosteron. Jadi, kelola stres, selalu berpikir positif, dan selalu tersenyum setiap hari,” tambah dr Andika.
Ia pun mengingatkan bahwa menjaga kesehatan hormonal pria bukan semata-mata untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal. Pola makan yang seimbang, olahraga yang tepat, tidur cukup dan kemampuan mengelola stres merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Editor : Abriandi
Artikel Terkait
