Patriotik! Negaranya Diserang AS-Israel, Bintang Sepak Bola Eropa Ini Pulang jadi Tentara Iran
TEHERAN, iNewsBalikpapan.id – Dunia sepak bola dikejutkan oleh keputusan mantan penyerang Inter Milan sekaligus andalan Timnas Iran, Mehdi Taremi, yang memilih meninggalkan kariernya di Eropa.
Penyerang berusia 33 tahun itu memutuskan pulang ke Iran dan mendaftarkan diri untuk menjalani tugas militer.
Langkah mengejutkan tersebut diambil di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang kian rumit. Taremi menilai panggilan negara memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan kelanjutan karier profesionalnya bersama klub-klub Eropa.
Padahal, performanya bersama Olympiacos di Liga Super Yunani musim ini terbilang gemilang. Ia mencatatkan 10 gol dari 16 penampilan dan menjadi salah satu mesin gol utama tim. Meski demikian, Taremi mengajukan permohonan pemutusan kontrak lebih awal kepada manajemen klub.
"Ini adalah masa ketika negara membutuhkan saya lebih dari apa pun. Saat tanah air berada dalam ancaman, sepak bola tidak lagi menjadi prioritas," ungkap Taremi kepada kerabat dekatnya, seperti dikutip dari Vietnam.vn.
Keputusan tersebut langsung memicu perdebatan. Pendukung Olympiacos menilai kepergiannya sebagai kehilangan besar, mengingat peran vital Taremi di lini depan klub.
Dari sisi tim nasional, absennya Taremi menjadi perhatian serius menjelang Piala Dunia 2026. Kehilangan striker utama jelas menjadi tantangan besar bagi persiapan Team Melli menghadapi turnamen akbar yang akan digelar pertengahan tahun mendatang.
Federasi Sepak Bola Iran disebut tengah berupaya membujuk Taremi agar mempertimbangkan ulang keputusannya. Kekhawatiran muncul bahwa meninggalkan kompetisi elite Eropa dapat berdampak pada ketajaman dan performanya di level internasional.
Namun demikian, Taremi tetap kukuh pada pilihannya. Ia menegaskan bahwa dedikasi kepada negara berada di atas segala pencapaian dan gengsi profesional.
Langkah yang diambil Taremi pun dipandang sebagai simbol patriotisme ekstrem dalam sepak bola modern—ketika seorang pemain papan atas rela meninggalkan panggung global demi menjalankan kewajiban nasional di tengah krisis negaranya.
Editor : Abriandi