get app
inews
Aa Text
Read Next : PLN Kaltimra Tebar Kasih Paskah, Hadirkan Harapan bagi Anak Panti Asuhan di Balikpapan

PLN Ubah Nasib Nelayan Tanjung Seloka, dari Tangkap Kepiting Jadi Budidaya Bernilai Tinggi

Minggu, 05 April 2026 | 19:18 WIB
header img
Kegiatan pendampingan budidaya kepiting soka di Desa Tanjung Seloka, di mana tim melakukan pengecekan dan penanganan kepiting pada rak budidaya menggunakan metode Recirculating Aquaculture System (RAS).(Foto: ist)

KOTABARU, iNewsBalikpapan.id – Perubahan nyata dirasakan nelayan di Desa Tanjung Seloka, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Jika dulu hanya mengandalkan tangkapan kepiting bakau dengan harga rendah, kini masyarakat mulai menikmati hasil budidaya yang lebih stabil dan bernilai tinggi.

Transformasi ini hadir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT). Program tersebut mendorong masyarakat pesisir beralih dari pola tangkap ke budidaya berkelanjutan.

Sejak 2024, PLN memulai Program Desa Berdaya dengan memanfaatkan limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) menjadi terumbu karang buatan atau bioreef block. Inovasi ini tak hanya menjaga ekosistem laut, tetapi juga meningkatkan habitat ikan dan kepiting sebagai sumber penghidupan nelayan.

Memasuki 2025, program berlanjut pada penguatan ekonomi melalui budidaya kepiting soka dan penggemukan kepiting menggunakan metode Recirculating Aquaculture System (RAS). Metode ini dinilai efektif meningkatkan nilai jual sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Ketua Kelompok Nelayan “Seloka Crabs”, Irhamsyah, mengaku merasakan langsung dampaknya.
“Dulu kami hanya menjual kepiting kecil dengan harga rendah. Sekarang setelah dibudidayakan dan digemukkan, harganya jauh lebih tinggi dan hasilnya lebih pasti,” ujarnya.

Program ini tidak hanya sebatas pelatihan, tetapi juga dilengkapi pendampingan intensif dan penyediaan sarana budidaya. Hasilnya, produksi kepiting mencapai sekitar 90 kilogram sepanjang 2025 dan kini stabil di kisaran 30 kilogram per bulan.

Tak hanya meningkatkan pendapatan, program ini juga membuka lapangan kerja baru dan memperkuat kelembagaan kelompok nelayan. Budidaya kepiting soka pun mulai dilirik sebagai sumber ekonomi alternatif yang menjanjikan di wilayah pesisir.

General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menegaskan komitmen PLN tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Potensi pesisir di Tanjung Seloka sangat besar. Kami ingin program ini mampu memberikan nilai ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan berbasis potensi lokal dapat mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

Selain berdampak ekonomi, program ini juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Penggunaan metode RAS memungkinkan budidaya dilakukan secara efisien tanpa merusak populasi kepiting di alam.

Pada 2026, PLN UIP KLT kembali melanjutkan program ini dengan memperkuat aspek lingkungan dan ekonomi. Sejumlah kegiatan seperti pelatihan, penyuluhan, penanaman pohon, hingga dukungan alat produksi bagi UMKM terus digencarkan.

Kini, dari pesisir yang dulu penuh ketidakpastian, Tanjung Seloka menjelma menjadi simbol harapan baru. Program ini membuktikan bahwa pengelolaan potensi lokal yang tepat mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.

Editor : Mukmin Azis

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut