PLN Ubah Nasib Nelayan Tanjung Seloka, dari Tangkap Kepiting Jadi Budidaya Bernilai Tinggi
Program ini tidak hanya sebatas pelatihan, tetapi juga dilengkapi pendampingan intensif dan penyediaan sarana budidaya. Hasilnya, produksi kepiting mencapai sekitar 90 kilogram sepanjang 2025 dan kini stabil di kisaran 30 kilogram per bulan.
Tak hanya meningkatkan pendapatan, program ini juga membuka lapangan kerja baru dan memperkuat kelembagaan kelompok nelayan. Budidaya kepiting soka pun mulai dilirik sebagai sumber ekonomi alternatif yang menjanjikan di wilayah pesisir.
General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menegaskan komitmen PLN tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Potensi pesisir di Tanjung Seloka sangat besar. Kami ingin program ini mampu memberikan nilai ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan berbasis potensi lokal dapat mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.
Selain berdampak ekonomi, program ini juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Penggunaan metode RAS memungkinkan budidaya dilakukan secara efisien tanpa merusak populasi kepiting di alam.
Pada 2026, PLN UIP KLT kembali melanjutkan program ini dengan memperkuat aspek lingkungan dan ekonomi. Sejumlah kegiatan seperti pelatihan, penyuluhan, penanaman pohon, hingga dukungan alat produksi bagi UMKM terus digencarkan.
Kini, dari pesisir yang dulu penuh ketidakpastian, Tanjung Seloka menjelma menjadi simbol harapan baru. Program ini membuktikan bahwa pengelolaan potensi lokal yang tepat mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
Editor : Mukmin Azis