JAKARTA, iNewsBalikpapan.id – Kurs rupiah mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Senin (19/1/2026). Rupiah melemah sebesar 68 poin atau sekitar 0,40 persen dan berakhir di posisi Rp16.955 per dolar AS, mendekati ambang psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor global, salah satunya pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif tambahan terhadap delapan negara Eropa.
Kebijakan tersebut ditujukan kepada negara-negara yang menentang rencana AS untuk mengambil alih Greenland. Menurut Ibrahim, Trump menyampaikan bahwa AS akan mengenakan bea masuk sebesar 10 persen terhadap produk dari negara-negara tersebut mulai 1 Februari.
Tarif itu bahkan berpotensi meningkat hingga 25 persen pada Juni apabila tidak tercapai kesepakatan. Sejumlah negara Eropa besar seperti Prancis, Jerman, dan Inggris, serta beberapa negara Nordik dan Eropa Utara, masuk dalam daftar sasaran.
Pernyataan tersebut memicu kecaman dari para pejabat Eropa dan memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik dagang antara AS dan Eropa.
Dari sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat. Situasi ini membuat pelaku pasar mulai meragukan kemungkinan Bank Sentral AS (The Federal Reserve) memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini.
Pergerakan kontrak berjangka Fed Funds juga mencerminkan perubahan ekspektasi, di mana proyeksi pemangkasan suku bunga berikutnya bergeser ke Juni dan September, dari perkiraan awal pada Januari dan April. Hal ini mengindikasikan bahwa The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Di kawasan Asia, rilis data terbaru memperlihatkan perekonomian China tumbuh 5,0 persen sepanjang tahun lalu, sejalan dengan target pemerintahnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan global terhadap barang, yang membantu menutup lemahnya konsumsi domestik.
Sementara dari dalam negeri, upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dinilai akan diiringi penerapan kebijakan yang tidak biasa. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko jangka menengah yang lebih besar dan memicu sentimen negatif terhadap rupiah.
Ibrahim juga menyoroti kembali kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Hal ini mencuat setelah pada 8 Januari 2026 terungkap bahwa defisit anggaran tahun sebelumnya mendekati batas maksimal 3 persen dari PDB, sementara penerimaan negara masih belum optimal. Faktor ini turut menekan pergerakan nilai tukar rupiah.
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak volatil pada perdagangan berikutnya dan berpeluang ditutup melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
Editor : Abriandi
Artikel Terkait
