Selanjutnya, Ecopreneur diperuntukkan bagi model usaha ramah lingkungan berbasis ekonomi sirkular. Renewable Energy 3T berfokus pada solusi untuk memperluas akses energi bersih di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Sementara Education for Impact ditujukan bagi inovasi yang mendorong pengembangan pendidikan berkelanjutan.
“Kelima kategori ini kami hadirkan untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi beragam bentuk inovasi. Mulai dari solusi lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, akses energi, hingga pendidikan. Harapannya, inovasi yang terpilih dapat berkembang dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” jelas Gregorius.
Menurut Gregorius, inovasi yang didaftarkan harus merupakan karya orisinal yang setidaknya telah melalui tahap uji coba atau beta test dan masih membutuhkan dukungan untuk pengembangan lebih lanjut.
Inovasi juga diharapkan memiliki manfaat yang jelas, rencana pengembangan jangka panjang, serta berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Seluruh peserta akan melalui proses seleksi secara bertahap, mulai dari seleksi administrasi, penyisihan, semifinal, final hingga feasibility checking. Pada tahap akhir, dilakukan peninjauan lapangan terhadap inovasi terpilih untuk melihat kesiapan implementasi dan potensi pengembangannya.
“Untuk menjaga independensi proses penilaian, PLN melibatkan ahli dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dan lingkungan,” tegas Gregorius.
Lebih dari sekadar kompetisi, PLN SustainAction juga memberikan dukungan bagi inovasi terpilih untuk dapat dikembangkan dan direalisasikan. Pemenang dari setiap kategori akan mendapatkan pembinaan serta dukungan pembiayaan untuk implementasi inovasinya di lapangan.
Program ini juga memberikan perhatian terhadap kelompok lokal, masyarakat adat, dan kelompok rentan sebagai bagian dari upaya mendorong inovasi yang inklusif dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Editor : Mukmin Azis
Artikel Terkait
