512 Pelanggan Kini Nikmati Listrik 24 Jam
Salah satu hasil dari upaya tersebut terlihat di Desa Senambah dan Desa Mulupan. Sebelum tersambung dengan jaringan PLN, masyarakat di kedua desa mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel dengan waktu operasi yang terbatas.
Kini, 512 pelanggan di kedua desa tersebut telah menikmati layanan listrik PLN selama 24 jam.
Kehadiran listrik sepanjang hari diharapkan memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, mendukung kegiatan belajar, serta mengembangkan kegiatan ekonomi dan produktivitas desa.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengapresiasi langkah PLN dalam memperluas akses listrik bagi masyarakat di wilayahnya.
“Kini masyarakat Senambah dan Mulupan sudah merdeka menikmati listrik selama 24 jam. Ini menjadi kabar baik dan momentum penting bagi pembangunan di Muara Bengkal. Kami berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan PLN terus diperkuat agar wilayah lain juga dapat merasakan manfaat yang sama,” ujar Ardiansyah.
General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli, mengatakan keberhasilan menghadirkan listrik 24 jam di Senambah dan Mulupan menjadi bagian dari perjalanan panjang PLN dalam memperluas akses listrik di Kaltim dan Kaltara.
“Senambah dan Mulupan menunjukkan bahwa di tengah tantangan geografis yang ada, akses listrik tetap dapat kita hadirkan melalui kerja bersama. Namun, perjalanan pemerataan ini belum selesai. Kami terus melanjutkan pembangunan dan memperluas akses listrik ke desa-desa lainnya secara bertahap,” ujar Chaliq.
Menurut Chaliq, rencana pembangunan jaringan sepanjang lebih dari 1.300 kilometer yang terdiri atas jaringan tegangan menengah dan tegangan rendah, serta pembangunan ratusan gardu distribusi, mencerminkan besarnya upaya yang diperlukan untuk menjangkau wilayah yang masih membutuhkan penguatan akses kelistrikan.
Namun, bagi PLN, pembangunan listrik desa tidak semata-mata berbicara mengenai panjang jaringan atau jumlah infrastruktur yang dibangun.
“Di balik setiap kilometer jaringan yang dibangun, ada masyarakat yang menantikan hadirnya listrik. Ada anak-anak yang membutuhkan penerangan untuk belajar, keluarga yang ingin menjalankan aktivitas dengan lebih leluasa, dan desa yang memiliki potensi untuk berkembang. Karena itu, setiap pembangunan yang kami lakukan memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu membuka semakin banyak ruang bagi masyarakat untuk tumbuh,” jelas Chaliq.
Ia menambahkan, perluasan akses listrik membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, hingga para pemangku kepentingan lainnya.
“Kami menyadari bahwa pemerataan listrik tidak dapat dilakukan sendiri. Dukungan pemerintah dan masyarakat sangat penting, baik dalam proses pembangunan maupun dalam memastikan infrastruktur yang telah dibangun dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan,” tambahnya.
Editor : Mukmin Azis
Artikel Terkait
