Kursi Pemimpin Tertinggi Iran Kosong, 4 Tokoh Ini Disebut Calon Pengganti Khamenei
Ketika ditanya apakah ada seseorang di Iran yang lebih disukainya untuk memimpin, Trump berkata, “Ya, saya rasa begitu. Ada beberapa kandidat yang baik.” Dia tidak berkomentar lebih lanjut tentang siapa yang ia maksud.
Menurut laporan New York Times, pemimpin tertinggi Iran haruslah seorang ulama dan cendekiawan Syiah senior yang ditunjuk oleh komite ulama yang dikenal sebagai Majelis Pakar. Tiga kandidat yang disukai Khamenei, berdasarkan wawancara dengan enam pejabat senior Iran adalah: kepala peradilan, Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i; kepala staf Ayatollah Khamenei, Ali Asghar Hejazi; dan Hassan Khomeini, seorang ulama moderat dari faksi politik reformis yang merupakan cucu Ayatollah Khomeini.
Selain ketiga sosok tersebut, ada satu lagi yang berpotensi menjadi pengganti Khamenei: Hashem Hosseini Bushehri—ulama senior dengan koneksi dekat ke lembaga-lembaga kunci yang terlibat dalam proses suksesi, khususnya Majelis Pakar, Sedankan Mojtaba, putra kedua Khamenei yang berusia 56 tahun, memiliki peluang tipis untuk jadi penerus ayahnya.
Terlebih Khamenei pernah mengatakan kepada para pengikutnya bahwa dia tidak ingin jabatan diwariskan secara turun-temurun.
Dia adalah ulama 67 tahun dan berpengalaman. Arafi merupakan rekan dekat Khamenei, yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar.
Dia juga pernah menjadi anggota Dewan Wali yang berpengaruh, badan yang bertanggung jawab untuk menyeleksi kandidat dalam pemilu dan meninjau undang-undang yang disahkan oleh Parlemen. Dia juga memimpin sistem seminari Iran.
Meskipun memiliki reputasi keagamaan yang kuat, dia tidak secara luas dianggap sebagai kekuatan politik utama dan tidak dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan lembaga keamanan.
Editor : Mukmin Azis