get app
inews
Aa Text
Read Next : Berani! Kapal Tanker China Terobos Blokade Militer AS di Selat Hormuz

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.346 per Dolar AS, Tekanan Global dan Harga Minyak Jadi Pemicu

Kamis, 30 April 2026 | 20:58 WIB
header img
Rupiah ditutup melemah 20 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.346 per dolar AS pada perdagangan hari ini. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNewsBalikpapan.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Rupiah turun 20 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.346 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal, terutama terkait kebijakan Presiden AS Donald Trump yang bersiap melakukan blokade angkatan laut terhadap Iran.

"Kekhawatiran atas skenario tersebut diperparah oleh laporan bahwa beberapa eksekutif minyak Amerika terkemuka bertemu dengan Trump di Gedung Putih untuk membahas bagaimana membatasi dampak konflik terhadap keluarga Amerika," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Blokade tersebut berpotensi memicu Iran terus menutup jalur strategis Selat Hormuz sebagai bentuk balasan. Kondisi ini dinilai dapat mengganggu pasokan minyak global secara signifikan.

Saat ini, lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah melambat sejak Iran melakukan penutupan pada akhir Februari 2026. Jalur ini diketahui menyumbang sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.

Di sisi lain, upaya diplomasi antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu. Trump bahkan meminta dukungan negara lain untuk membuka kembali jalur tersebut, meski sejumlah sekutu menolak terlibat.

Selain faktor geopolitik, sentimen juga datang dari kebijakan moneter AS. Ketua The Fed Jerome Powell menyebut independensi bank sentral berada dalam risiko di tengah dinamika politik, sementara nama Kevin Warsh mulai mencuat sebagai pengganti.

Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent tercatat mencapai 122 dolar AS per barel, sementara WTI menyentuh 108 dolar AS per barel.

Kondisi ini meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor minyak sekitar 1,5 juta barel per hari. Ibrahim memperkirakan kenaikan harga minyak berpotensi membebani neraca transaksi berjalan dan fiskal pemerintah.

"Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal. Beban subsidi akibat kenaikan harga minyak juga diestimasikan bakal menekan APBN 2026," ungkapnya.

Dalam asumsi APBN, harga minyak ditetapkan sekitar 70 dolar AS per barel. Dengan harga saat ini yang menembus 120 dolar AS, setiap kenaikan 1 dolar AS diperkirakan menambah beban subsidi energi hingga Rp10 triliun–Rp13 triliun per tahun.

Tekanan juga diperparah oleh kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing, sehingga berpotensi memicu capital outflow hingga Rp15 triliun.

Sementara itu, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di berbagai instrumen, mulai dari pasar Non-Deliverable Forward (NDF), spot, Domestic NDF (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Bank sentral juga menjaga daya tarik instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta memperkuat komunikasi agar pelemahan rupiah tetap terkendali.

Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.350 hingga Rp17.400 per dolar AS.

Editor : Mukmin Azis

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut