Duh! Rupiah Babak Belur, Nilai Tukar Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Anggie Ariesta
Nilai tukar Rupiah melemah sebesar 68 poin atau sekitar 0,40 persen dan berakhir di posisi Rp16.955 per dolar AS. (foto: ilustrasi/dok)

Pergerakan kontrak berjangka Fed Funds juga mencerminkan perubahan ekspektasi, di mana proyeksi pemangkasan suku bunga berikutnya bergeser ke Juni dan September, dari perkiraan awal pada Januari dan April. Hal ini mengindikasikan bahwa The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Di kawasan Asia, rilis data terbaru memperlihatkan perekonomian China tumbuh 5,0 persen sepanjang tahun lalu, sejalan dengan target pemerintahnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan global terhadap barang, yang membantu menutup lemahnya konsumsi domestik.

Sementara dari dalam negeri, upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dinilai akan diiringi penerapan kebijakan yang tidak biasa. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko jangka menengah yang lebih besar dan memicu sentimen negatif terhadap rupiah.

Ibrahim juga menyoroti kembali kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Hal ini mencuat setelah pada 8 Januari 2026 terungkap bahwa defisit anggaran tahun sebelumnya mendekati batas maksimal 3 persen dari PDB, sementara penerimaan negara masih belum optimal. Faktor ini turut menekan pergerakan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak volatil pada perdagangan berikutnya dan berpeluang ditutup melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.

Editor : Abriandi

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network